Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Kamis, 10 April 2014

keseimbangan penawaran agregat dan permintaan agregat (AD-AS)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunianya kepada saya serta memberikan nafas kehidupan, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “Keseimbangan AD-AS” dengan tepat waktu. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah ekonomi makro yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini, dan tidak lupa pula orang tua serta keluarga yang selalu mendukung kelancaran tugas saya.
Akhirnya saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan saya berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi tim kami khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini meskipun dalam penyusunan makalah ini kami telah mencurahkan semua kemampuan, namun kami sangat menyadari bahwa hasil dari penyusunan makalah ini jauh dari kata sempurna, yang dikarenakan keterbatasan data dan referensi maupun kemampuan kami. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat kami harapkan dari para pembaca guna meningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Penulis

Bangkalan, 10 april 2014








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ..... 3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................... 4
Rumusan Masalah ......................................................................................... 4
Tujuan Masalah ..................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 KURVA PERMINTAAN AGREGAT............................. ........................................ 5
2.1.1 Cara Menentukan Kurva AD.......................................................................... 5
2.1.2 Sifat Utama Sifat AD...................................................................................... 7
2.1.3 Efek Pertambahan Komponen Pengeluaran Agregat............................... ...... 8
2.2 KURVA PENAWARAN AGREGAT(AS) ............................................................. 11
2.2.1 Ciri-Ciri Kurva AS.................... .................................................................... 11
2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bentuk Kurva AS.................................. 12
2.3 KESEIMBANGAN PERMINTAAN-PENAWARAN AGREGAT(AD-AS) ........ 16
2.3.1 Keseimbangan Makro Ekonomi .................................................................... 16
2.3.2 Perubahan Keseimbangan dan Penyebabnya................................................. 17
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................ 23



BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dalam analisis AD-AS istilah penaswaran agregat mempunyai pengertian yang sedikit berbeda. Pertama, dalam analisis AD-AS penawaran agregat diartikan sebagai penawaran barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam suatu negara. Berarti penawaran agregat sama dengan barang dan jasa yang ditawarkan (diproduksikan) perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Perbedaan lainnya, yang merupakan perbedaan yang lebih penting, bersumber dari ciri pokok konsep tersebut. Dalam analisis AD-AS ciri penawaran agregat dikaitkan dengan tingkat harga. Kurva AS menerangkan tentang pendapatan nasional yang akan diwujudkan perusahaan-perusahaan pada berbagai tingkat harga.
Istilah permintaan agregat merupakan konsep yang baru. Permintaan agregat dapat didefinisikan sebagai tingkat pengeluaran yang akan dilakukan dalam ekonomi pada berbagai tingkat harga. Dengan demikian arti permintaan agregat adalah sangat berbeda dengan pengeluaran agregat. Pengeluaran agregat menggambarkan tentang hubungan antara pengeluaran yang akan dilakukan dalam perekonomian dengan pendapatan nasional. Dalam hubungan tersebut dimisalkan harga-harga tidak mengalami perubahan. Dengan demikian kedua konsep tersebut mempunyai arti yang sangat berbeda.
Dari sifat-sifat permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS) seperti yang diterangkan di atas dapatlah disimpulkan bahwa analisis AD-AS merupakan analisis keseimbangan ekonomi negara dalam keadaan harga yang mengalami perubahan. Analisis tersebut bertujuan untuk melengkapi analisis penawaran agregat – pengeluaran agregat (Y = AE) yang diterangkan dalam pembahasan sebelumnya.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana kurva permintaan agregat (AD) ?
Bagaimana kurva penawaran agregat (AS) ?
Bagaimana keseimbangan permintaan-penawaran agregat (AD-AS)?
TUJUAN MASALAH
Ingin mengetahui bagaimana kurva permintaan agregat (AD)
Ingin mengetahui bagaimana kurva penawaran agregat (AS)
Ingin mengetahui bagaimana keseimbangan AD-AS
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 KURVA PERMINTAAN AGREGAT (AD)
2.1.1 Cara menentukan kurva AD
Misalkan pada mulanya tercapai suatu keseimbangan Y=AE . Seterusnya misalkan tingkat harga adalah P₀ . Apakah yang dapat diramalkan akan berlaku pada keseimbangan itu apabila harga meningkat dari P₀ menjadi P₁ ? untuk memperoleh jawabannya perlu terlebih dahulu dijawab pertanyaan berikut (1) apakah efek kenaikan harga kepada pendapatan rill, dan (2) apakah efek kenaikan harga pada suku bunga ? kenaikan harga menyebabkan pendapatan rill masyarakat menurun dan seterusnya menyebabkan nilai rill konsumsi rumah tangga juga merosot. Seterusnya inflasi akan menaikkan suku bunga dan kenaikan ini akan mengurangi investasi. Jawaban ini dapat disimpulkan :kenaikan harga menyebabkan nilai rill pengeluaran agregat merosot dan menurunkan pendapatan nasional rill pada keseimbangan. Berdasarkan kepada peristiwa ini secara grafik sekarang dapat ditunjukkan dua hal berikut : 1. Efek kenaikan harga ke atas keseimbangan pendapatan nasional, 2. Cara menunjukkan kurva permintaan agregat
Perhatikan gambar berikut, gambar (a) menujukkan perubahan keseimbangan sebagai akibat dari kenaikan harga dan gambar (b) menunjukkan kurva AD yang dibentuk berdasarkan perubahan keseimbangan dalam bagian (a). Dimisalkan pada mulanya tingkat harga adalah P₀ dan pengeluaran agregat pada tingkat harga ini adalah AE(P₀). Dengan demikian keseimbangan dicapai di E₀ dan pendapatan nasional adalah Y₀. Kenaikan harga dari P₀ menjadi P₁ menyebabkan pengeluaran agregat rill merosot dari AE(P₀) menjadi AE(P₁). Perubahan ini menyebabkan keseimbangan baru dicapai di E₁ dan pendapatan nasional pada keseimbangan merosot menjadi Y₁.
Dari perubahan keseimbangan di atas sekarang dapatlah ditunjukkan cara untuk membentuk kurva AD. Pada gambar (a) keseimbangan asal, yaitu pada harga P₀ , adalah di titik E₀ dan pendapatan nasonal adalah Y₀. Kenaikan harga dari P₀ menjadi P₁ memindahkan keseimbangan ke E₁ dan pendapatan nasional adalah Y₁. Dalam bagian (b) titik B menunjukkan keadaan keseimbangan yang baru ini, yaitu tingkat harga adalah P₁ dan pendapatan nasional Y₁. Dengan menarik garis melalui titik A dan B akan terbentuk kurva permintaan agregat AD. Kurva AD dapat didefinisikan sebagai suatu fungsi (atau kurva) yang menggambarkan hubungan antara tingkat harga dengan jumlah pengeluaran agregat yang akan dilakukan dalam perekonomian.
Dari definisi tersebut dapatlah sekarang dengan jelas dipahami perbedaan arti konsep pengeluaran agregat dan permintaan agregat. Pengeluaran agregat berlaku pada harga tetap, sedangkan permintaan agregat berlaku pada harga yang berubah.




2.1.2 Sifat utama sifat AD
Kurva AD selalu merupakan suatu garis dari kiri atas dari ke kanan bawah. Artinya : semakin rendah tingkat harga,semakin besar permintaan agregat yang wujud dalam perekonomian. Sifat kurva AD yang menurun ke bawah ini disebabkan oleh beberapa faktor yang diterapkan berikut.
Tingkat Harga dan Pengeluaran Rumah Tangga
Dalam suatu waktu tertentu tingkat pendapatan nominal masyarakat adalah tetap. Tingkat gaji dan upah dan jumlah kesempatan kerja akan menentukan jumlah pendapatan yang diterima masyarakat pada suatu waktu tertentu. Apabila tingkat harga berbeda, daya beli pendapatan yang diperoleh adalah berbeda. Semakin rendah tingkat harga, semakin banyak barang dan jasa yang dapat dibeli. Dengan kata lain : nilai rill pengeluaran agregat akan semakin meningkat apabila tingkat harga semakin rendah
Tingkat Harga, Suku Bunga dan Investasi
Pada umumnya terdapat perkaitan yang cukup rapat di antara perubahan tingkat harga dengan suku bunga. Apabila harga adalah stabil, atau tingkat inflasi, suku bunga cenderung akan menjadi semakin tinggi. Pemilik modal akan berusaha untuk memperoleh suku bunga rill yang tetap besarnya dan ini dilakukan dengan menuntut suku bunga nominal yang lebih tinggi pada waktu inflasi yang semakin cepat.
Terdapat perkaitan yang rapat pula di antara suku bunga dengan investasi, yaitu semakin tinggi suku bunga akan menyebabkan penurunan dalam investasi. Kemerosotan investasi menyebabkan pengurangan pengeluaran agregat. Dengan demikian kenaikan harga akan menimbulkan proses perubahan berikut : (1) harga naik menyebabkan suku bunga naik,(2) suku bunga naik menyebabkan investasi turun, dan (3) investasi yang merosot menyebabkan pengeluaran agregat dan pendapatan nasional rill merosot.
Tingkat Harga, Ekspor dan Impor
Berbagai negara, terutama negara-negara yang telah maju sektor industrinya, akan mengeluarkan barang yang sama jenisnya. Indonesia dan thailand dapat memproduksi sepatu, pakaian, dan mobil. Oleh karena itu tingkat harga akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan ekspor dan impor suatu negara. Secara umum dapat dikatakan (a) apabila barang-barang dalam suatu negara adalah relatif lebih murah,ekspor akan meningkat, dan impor berkurang, dan sebaliknya (b) apabila barang-barang dalam satu negara adalah relatif lebih mahal ekspor akan merosot dan impor meningkat. Berdasarkan sifat yang dapat disimpulkan: kenaikan harga akan menurunkan ekspor neto (ekspor dikurangi impor) dan Pengurangan ekspor neto akan menurunkan pengeluaran agregat dan pendapatan nasional rill.

2.1.3 Efek Pertambahan Komponen Pengeluaran Agregat
Apa pun perubahan yang akan berlaku, yaitu apakah ia merupakan pertambahan C,I,G atau X, efeknya kepada pertambahan pengeluaran agregat dan pendapatan nasional adalah sama, yaitu :

∆Y=Multiplier x ∆AE
Di mana ∆AE dapat berupa pertambahan salah satu dari yang berikut : C,I,G dan X. Maka secara gambar efek pertambahan salah satu komponen dari pengeluaran agregat, misalnya pertambahan investasi, adalah seperti yang ditunjukkan dalam gambar berikut
Pengeluaran agregat yang asal adalah AE(P₀) dan kenaikan investasi sebesar ∆I memindahkan pengeluaran agregat menjadi AE₁(P₀). Dengan kata lain, pertambahan investasi akan menambah pendapatan nasional dari Y₀ menjadi Y₁ akan tetapi tingkat harga tidak berubah dan tetap sebesar P₀. Berdasarkan kepada perubahan ini, pada bagian (b) ditunjukkan efek pertambahan pengeluaran agregat (investasi) terhadap kurva permintaan agregat AD.
Berdasarkan kepada keseimbangan Y=AE(P₀) yaitu keseimbangan pendapatan nasional yang asal, tingkat harga adalah P₀ dan Pendapatan nasional rill adalah Y₀. Dalam gambar (b), kurva AD₀ menunjukkan permintaan agregat yang asal, dan titik A menunjukkan keseimbangan pendapatan nasional yang asal. Kenaikan investasi memindahkan keseimbangan dari E₀ ke E₁ dan pada keseimbangan yang baru ini tingkat harga tetap pada P₀ tetapi pendapatan nasional rill meningkat menjadi Y₁. Berarti, dalam gambar (b) keseimbangan yang baru ditunjukkan oleh titik B. Berdasarkan kepada keseimbangan ini dapat ditentukan kurva permintaan agregat yang baru, yaitu kurva AD₁ yang melalui B dan sejajar dengan AD₀.
Sampai di manakah pergeseran AD menjadi AD₁ ? Gambar (b) jelas menunjukkan bahwa AB sama dengan Y₀Y₁. Dan nilai Y₀Y₁ atau ∆Y Adalah : Multiplier x ∆I. Dengan demikian jarak di antara AD₀ dengan AD₁ adalah sama dengan : Multiplier x ∆I.
Walau bagaimanapun dalam analisis AD-AS nilai multiplier akan selalu lebih kecil dari dalam analisis Y=AE. Hal ini disebabkan karena apabila AD bertambah keseimbangan AD-AS yang baru akan tercapai pada tingkat harga yang lebih tinggi dan pendapatan nasional yang lebih rendah dari pada yang didapati dalam analisis keynesia sederhana.





2.2 KURVA PENAWARAN AGREGAT (AS)
2.2.1 Ciri-Ciri Kurva AS
Sesuai dengan perkembangan pemikiran makroekonomi dan analisis mengenai penawaran agregat, dalam uraian-uraian selanjutnya, kurva penawaran agregat (AS) yang akan digunakan adalah seperti yang digambarkan dalam gambar di bawah ini. Dalam analisis makroekonomi di waktu ini kurva penawaran agregat (AS) mempunyai ciri-ciri berikut :
Pada ketika tingkat pengangguran masih tinggi, kurva penawaran agregat AS relatif landai. Maksudnya, penambahan produksi nasional dapat dilakukan perusahaan-perusahaan pada harga yang relatif tetap karena (a) tingkat penggunaan barang modal belum mencapai kapasitasnya yang optimum, dan (b) upah masih relatif tetap. Tahap ini dicapai pada bagian AB dari kurva AS
Dari titik B hingga titik C, yaitu titik pada garis tegak pada tingkat kesempatan kerja penuh, kurva AS bertambah tingkat kenaikannya. Sebabnya adalah : pengangguran sudah semakin merosot dan kapasitas pabrik-pabrik sudah mencapai optimum.
Sesudah tingkat kesempatan kerja penuh kurva AS keadaannya semakin tegak.
Kesimpulan: Kurva penawaran Agregat AS adalah suatu kurva yang berbentuk melengkung dari kiri-bawah ke kanan-atas, dengan tingkat kelengkungan yang semakin lama semakin tinggi.
Kurva penawaran agregat pada hakikatnya menggambarkan tentang hubungan di antara tingkat harga yang berlaku dalam ekonomi dan nilai produksi rill (atau pendapatan nasional rill) yang akan ditawarkan dan diproduksi oleh semua perusahaan dalam sesuatu perekonomian. Bentuknya yang melengkung ke atas berarti : semakin tinggi tingkat harga umum, semakin banyak output nasional yang akan di produksikan oleh perusahaan-perusahaan dalam perekonomian.

2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bentuk Kurva AS
Efek Hukum Hasil Tambahan yang Semakin Berkurang
Untuk memproduksikan barang dan jasa, perusahaan-perusahaan memerlukan faktor-faktor produksi, yaitu : tenaga kerja, tanah, modal dan keahlian keusahawanan. Dalam jangka pendek tanah, modal, teknologi dan keahlian keusahawanan dianggap tetap dan faktor yang dapat berubah adalah tenaga kerja. Dengan demikian dalam jangka pendek fungsi produksi dapat dinyatakan dengan menggunakan persamaan berikut :
Q=f(L)

Maksudnya : jumlah output – atau nilai produksi riil, ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang digunakan. Fungsi produksi jangka pendek tersebut dipengaruhi oleh hukum hasil tambahan yang semakin berkurang, yaitu apabila jumlah tenaga kerja ditambah, produksi marjinal yang diciptakan oleh pertambahan tenaga kerja tersebut adalah lebih rendah dari tenaga kerja sebelumnya. Sebagai contoh : tenaga kerja ke-4 memproduksikan 10 unit output. Efek daripada hukum hasil tambahan yang semakin berkurang, tenaga kerja ke-5 akan memproduksikan kurang dari 10 unit, misalnya 8 unit. Oleh karena upah tenaga kerja ke-4 dan ke-5 adalah sama, maka biaya per unit untuk memproduksikan 8 unit adalah lebih mahal dari memproduksikan 10 unit.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan : efek dari berlakunya hukum hasil tambahan yang semakin berkurang, apabila lebih banyak tenaga kerja digunakan oleh perusahaan-perusahaan, biaya produksi per unit akan semakin meningkat. Oleh sebab itu perusahan akan menambah produksi dan penawarannya hanya pada keadaan di mana harga semakin meningkat apabila output ditambah. Kecenderungan ini merupakan salah satu faktor mengapa kurva penawaran agregat AS melengkung ke atas. Kurva AS yang melengkung ke atas tersebut menggambarkan ciri perhubungan tersebut : semakin tinggi tingkat harga, semakin besar jumlah barang yang diproduksikan dan ditawarkan para pengusaha.
Dalam teori mikroekonomi dengan jelas dapat dilihat efek hukum hasil tambahan yang semakin berkurang ke atas biaya produksi dan kurva perusahaan dalam persaingan sempurna. Perhatikan gambar (a) . kurva AC, AVC, dan MC adalah kurva biaya rata-rata, biaya berubah rata-rata dan biaya marjinal. Ketiga-tiga kurva tersebut berbentuk “U” oleh karena dimisalkan kegiatan memproduksi dipengaruhi oleh hukum hasil tambahan yang semakin berkurang. Seterusnya, dalam teori pasaran persaingan sempurna ditunjukkan pula bahwa : kurva MC di atas kurva AVC yang minimum adalah kurva penawaran perusahaan. Bentuknya adalah melengkung ke atas. Penawaran agregat dapat dipandang sebagai gabungan kurva penawaran perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Dengan demikian, melalui teori keseimbangan dalam persaingan sempurna dapat ditunjukkan dan dibuktikan bahwa hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyebabkan kurva penawaran agregat AS melengkung ke atas
Pasaran Tenaga Kerja dan Kurva Penawaran Agregat
Dalam menerangkan efek hukum hasil tambahan yang semakin berkurang ke atas ciri kurva penawaran agregat dimisalkan tingkat upah adalah tetap pada berbagai tingkat penggunaan tenaga kerja. Hal ini hanyalah benar untuk kegiatan suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Dalam pasaran-pasaran tenaga kerja yang dilihat dari segi seluruh negara, penawaran dan permintaan tenaga kerja dan penentuan tingkat upah, adalah seperti ditunjukkan dalam bagian gambar (b)
Dalam pasaran tenaga kerja yang bersifat persaingan sempurna tingkat upah ditentukan oleh permintaan tenaga kerja, digambarkan oleh kurva D_L. Dan penawaran tenaga kerja, digambarkan oleh kurva S_L. Pada ketika permintaan tenaga kerja adalah D_L tingkat upah adalah W₀ dan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam ekonomi adalah N₀. Permintaan tenaga kerja yang semakin meningkat, mislanya menjadi D_L^1 meningkatkan kesempatan kerja menjadi N₁ dan tingkat upah menjadi W₁. Apabila permintaan tenaga kerja mencapai D_L^2 maka upah akan mencapai W₂ dan kesempatan kerja menjadi sebanyak N₂. Gambaran ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kesempatan kerja, semakin tinggi tingkat upah yang diterima para pekerj. Upah yang semakin tinggi ini akan menaikkan biaya produksi. Maka, untuk tetap memperoleh keuntungan dan dapat meneruskan operasinya, penawaran agregat dalam ekonomi hanya akan ditingkatkan oleh perusahaan-perusahaan apabila tingkat harga semakin tinggi. Dengan kata lain : semakin tinggi tingkat harga, semakin banyak pendapatan nasional riil (output dalam harga tetap) yang ditawarkan perusahaan dalam perekonomian. Keadaan ini menggambarkan bahwa kurva penawaran agregat AS melengkung ke atas.


Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kenaikan Upah
Kenyataan yang sebenarnya yang berlaku dalam perekonomian memberikan dorongan yang kuat kepada teori mengenai penentuan upah dipasaran tenaga kerja seperti yang baru saja diterangkan di atas. Dalam analisis makro ekonomi selalu diperkenalkan kurva phillips, yaitu suatu kurva yang menerangkan kiri perhubungan berikut : (a) perhubungan diantara tingkat kenaikan upah dan tingkat pengangguran, (b) perhubungan diantara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran.
Nama kurva phillips diambil dari orang mula-mula melakukan penyelidikan mengenai hubungan diantara kenaikan tingkat upah dengan tingkat pengangguran. Dalam tahun 1958,A.W. Phillips , yang pada itu menjadi profesor di LONDON SCHOOL OF ECONOMICS, membuat satu study mengenai ciri-ciri perubahan tingkaat upah dan tingkat pengangguran. Kesimpulan dari study itu adalah : terdapat suatu hubungan negatif diantara kenaikan tingkat upah dengan tingkat pengangguran. Pada ketika tingkat pengangguran tinggi, tingkat kenaikan upah adalah rendah; dan apabila tingkat pengangguran rendah, presentasi kenaikan tingkat upah meningkat.



2.3 KESEIMBANGAN PERMINTAAN-PERNAWARAN AGREGAT (AD-AS)
2.3.1 Keseimbangan Makro Ekonomi
Beberapa orang menamakan keseimbangan AD-AS sebagai keseimbangan Makro Ekonomi. Dinamakan demikian karena analisis ini telah memasukkan unsur perubahan harga dalam analisis keseimbangannya, yaitu analisis ini lebih lengkap daripada analisis keseimbangan pendapatan nasional yang di terapkan dalam presentasi sebelumnya.
Dari gambar dibawah ini dapat dilihat bahwa kurva AD dan AS berpotongan di titik E, yang berarti permintaan agregat adalah sama dengan penawaran agregat pada pendapatan nasional riil sebanyak Y_E dan tingkat harga pada P_e. Titik E menggambarkan keseimbangan yang akan dicapai dalam perekonomian oleh karena perusahaan-perusahaan tidak akan menambah atau mengurangi output yang diproduksikan dan kegiatan ekonomi telah mencapai keadaan yang stabil. Dalam keadaan ini keseimbangan makro ekonomi telah tercapai.
Untuk membuktikan bahwa titik E adalah titik keseimbangan yang akan menentukan tingkat harga, pendapatan nasional riil dan kesempatan kerja, perlu diperhatikan keadaan yang akan berlaku apabila tingkat harga lebih tinggi atau lebih rendah daripada P_e.
Apabila tingkat harga adalah P₀, penawaran agregat adalah Y₁ sedangkan permintaan agregat adalah Y₃. Berarti terdapat kelebihan penawaran sebanyak AB.kelebihan penawaran agregat ini menimbulkan keadaan deflasi (penurunan harga) dan tingkat harga merosot sehingga kelebihan penawaran tidak wujud lagi, yaitu di P_e. Sebaliknya, apabila tingkat harga P₁ akan berlaku kelebihan permintaan, yaitu sebanyak CD. Pada P₁ permintaan agregat Y₂ sedangkan penawaran agregat hanya sebanyak Y. Kelebihan permintaan ini menyebabkan harga naik sehingga tingkat harga mencapai P_e, yaitu ketika kelebihan permintaan tidak wujud lagi.
Pada ketika kelebihan penawaran berlaku, stock barang dalam perusahaan (inventaris) berlebihan dan ini akan mendorong kepada pengangguran kegiatan ekonomi. Pada keadaan yang sebaliknya, yaitu apabila kelebihan permintaan berlaku, perusahaan-perusahaan akan menambah produksinya dan kegiatan ekonomi berkembang. Hanya pada ketika permintaan agregat sama dengan penawaran agregat tingkat kegiatan ekonomi tidak mengalami perubahan dan keseimbangan makro ekonomi tercapai.


2.3.2 Perubahan Keseimbangan dan Penyebabnya
Efek Perubahan Kurva AD
Efek perubahan kurva AD ditunjukkan dalam gambar (a). Keseimbangan yang asal adalah di E₀ dan berarti pada mulanya tingkat harga P₀ dan pendapatan nasional riil adalah Y₀. Kemerosotan pengeluaran dalam perekonomian (yang disebabkan oleh pengurangan C, I, G, atau X) akan memindahkan AD₀ menjadi AD₁ dan memindahkan keseimbangan ke E₁ , yang menggambarkan tingkat harga telah merosot menjadi P₁ dan pendapatan nasional riil berkurang menjadi Y₁. Keadaan ini berarti : output nasional berkurang, deflasi berlaku, kesempatan kerja merosot, dan pengangguran bertambah.
Apabila pengeluaran dalam ekonomi meningkat, kurva AD₀ akan bergeser ke AD₂ dan keseimbangan yang baru adalah di E₂. Keseimbangan ini menunjukkan pendapatan nasional riil akan tetapi perkembangan ini menyebabkan tingkat harga meningkat dan pengangguran berkurang. Akan tetapi perkembangan ini menyebabkan tingkat harga meningkat menjadi P₂.
Dapat dibuat kesimpulan berikut : perubahan dalam permintaan agregat yang tidak diikuti oleh perubahan penawaran agregat akan menimbulkan perubahan harga dan pendapatan nasional rill ke arah yang bersamaan, yaitu: kedua-duanya meningkat atau kedua-duanya merosot.

Efek Perubahan Kurva AS
Gambar (b) menunjukkan perubahan keseimbangan dalam kegiatan perekonomian efek dari perubahan AS. Keseimbangan asal adalah di E₀ dan keseimbangan ini menggambarkan pendapatan nasional riil Y₀ dan tingkat harga P₀. Seterusnya misalkan harga barang impor dan bahan mentah meningkat. Efek dari perubahan ini kurva AS₀ akan bergeser ke AS₂ dan keseimbangan baru dicapai di E₂. Berarti, pendapatan nasional riil merosot menjadi Y₂ dan tingkat harga meningkatmenjadi P₂. Perubahan ini menggambarkan bahwa kenaikan harga berlaku tetapi pendapatan nasional riil merosot dan menyebabkan pengangguran meningkat. Keadaan seperti ini dinamakan stagflasi, yaitu kemunduran dalam kegiatan ekonomi yang diikuti oleh masalah inflasi
Telah diterangkan bahwa kemajuan teknologi, perbaikan dalam infrastruktur dan langkah-langkah pemerintah dalam bidang perpajakan, pemberian izin usaha dan sikap administrasi pemerintah yang berusaha membantu kegiatan swasta dapat menimbulkan efek yang menggalakkan ke atas biaya produksi dan akan memindahkan kurva AS ke bawah/kanan, misalnya dari AS₀ menjadi AS₁. Peningkatan yang menyeluruh dari efisiensi perusahaan-perusahaan misalnya sebagai akibat kualitas tenaga kerja yang bertambah baik, juga dapat menimbulkan efek yang seperti itu. Perubahan tersebut memindahkan keseimbangan ke E₁, yang menggambarkan tingkat harga turun menjadi P₁ dan pendapatan nasional riil bertambah menjadi Y₁. Keadaan ini berarti pula bahwa kesempatan kerja bertambah dan pengangguran menurun.
Kesimpulan: Analisis mengenai perubahan kurva penawaran agregat AS menunjukkan bahwa perubahan tersebut akan mengakibatkan perubahan harga dan pendapatan nasional riil ke arah yang bertentangan. Sebagai contoh, pergeseran AS ke atas menyebabkan tingkat harga naik dan pendapatan nasional riil turun.

Efek Perubahan Serentak AD dan AS
Gambaran yang lebih realitik mengenai keadaan yang berlaku dalam perekonomian adakalanya meliputi perubahan dalam kedua kurva , yaitu AD dan AS, secara berurutan. Dua contoh digambarkan pada gambar di bawah ini. Gambar (a) menunjukkan perubahan kurva AS yang diikuti oleh perubahan kurva AD ke kiri, dan gambar (b) menunjukkan perubahan kurva AS yang diikuti oleh pergeseran kurva AD ke kanan.
Terlebih dahulu perhatikan gambar (a). Keseimbangan asal di E₀ (berarti harga P₀ dan pendapatan nasional riil adalah Y₀). Kenaikan harga minyak dan berbagai bahan mentah impor akan mengalihkan kurva AS menjadi AS₁. Efek awal dari perubahan ini adalah : harga naik menjadi P₁ dan pendapatan riil menjadi Y₁. Perubahan ini mengurangi tingkat kesempatan kerja serta pendapatan di rumah tangga. Perubahan ini selanjutnya akan mengurangi permintaan agregat, misalnya dari AD menjadi AD₁. Maka pada akhirnya keseimbangan yang baru adalah di E₂. Pada keseimbangan ini tingkat harga adalah P₂ pendapatan nasional riil adalah Y₂.
Seterusnya perhatikan pula gambar (b). Misalkan pemerintah melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki infrastruktur, menurunkan berbagai pajak yang harus dibayar perusahaan-perusahaan dan melakukan berbagai tindakan yang menggalakkan perkembangan kegiatan swasta. Tindakan seperti ini mengalihkan kurva AS ke bawah/kanan, misalnya dari AS menjadi AS₁. Efek dari perubahan ini keseimbangan berubah dari E₀ menjadi E₁. Berarti , tingkat harga turun dari P₀ menjadi P₁ dan pendapatan nasional riil meningkat dari Y₀ menjadi Y₁. Peningkatan pendapatan nasional akan menambahkan kesempatan kerja. Selanjutnya pertambahan kesempatan kerja akan meningkatkan permintaan agregat, misalnya dari AD menjadi AD₁. Keseimbangan makroekonomi yang baru dicapai di E₂, yang menggambarkan tingkat harga yang telah menjadi P₂ dan pendapatan nasional riil adalah Y₂.

BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Kurva permintaan agregat AD dibentuk oleh keseimbangan Y = AE yang berlaku pada tingkat harga yang berbeda. Dalam perekonomian pengeluaran agregat meliputi AE = C + I + G+ (X – M). Dengan demikian kurva AD dibentuk oleh nilai AE pada berbagai tingkat harga. Kurva AD menurun ke bawah, dari sisi kiri ke arah kanan, dan berarti semakin rendah harga semakin besar permintaan agregat. Sifat yang demikian disebabkan oleh faktor-faktor berikut : (1) pendapatan riil dan konsumsi rumah tangga meningkat apabila harga turun, (2) semakin stabil harga-harga, semakin rendah suku bunga dan menyebabkan investasi meningkat, dan (3) harga yang semakin rendah akan menambah ekspor dan mengurangi impor
Perubahan-perubahan dalam komponen pengeluaran agregat, yaitu C,I,G,X dan M akan menggeser kurva AD. Kurva AD akan bergeser ke kanan apabila C, I, G, dan X (masing-masing atau gabungannya) bertambah, dan akan bergeser ke kiri apabila M bertambah. Kenaikan S dan T juga akan menggeser AD ke kiri.
Dalam analisis AD-AS, kurva penawaran agregat AS berbentuk melengkung ke atas dari kiri ke kanan. Kurva AS seperti ini berbeda dengan yang selalu digambarkan berdasarkan teori klasik (yaitu tegak lurus pada pendapatan nasional yang dicapai pada kesempatan kerja penuh) dan yang digambarkan berdasarkan teori keynes (yaitu berbentuk huruf L yang dibalikkan arahnya) bentuk kurva AS yang melengkung ke atas tersebut didasarkan kepada dua teori dalam analisis teori mikro ekonomi (yaitu teori biaya produksi dan teori pasaran tenaga kerja) dan hasil dari studi empirikal.
Keseimbangan pendapatan nasional, yang dalam analisis AD-AS dinamakan juga sebagai keseimbangan makroekonomi, dicapai apabila kurva AD berpotongan dengan kurva AS. Keseimbangan ini akan menentukan tingkat harga yang berlaku dalam perekonomian dan pendapatan nasional riil yang akan diwujudkan. Keseimbangan ini akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Secara analisis, perubahan keseimbangan itu dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: perubahan AD saja, perusahaan AS saja, dan perubahan serentak atau secara berturutan dalam AD dan AS.



DAFTAR PUSTAKA

Sukirno Sadono(2011)MAKROEKONOMI,Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Rebat FBS TERBESAR – Dapatkan pengembalian rebat atau komisi
hingga 70% dari setiap transaksi yang anda lakukan baik loss maupun
profit,bergabung sekarang juga dengan kami
trading forex fbsasian.com
-----------------
Kelebihan Broker Forex FBS
1. FBS MEMBERIKAN BONUS DEPOSIT HINGGA 100% SETIAP DEPOSIT ANDA
2. FBS MEMBERIKAN BONUS 5 USD HADIAH PEMBUKAAN AKUN
3. SPREAD FBS 0 UNTUK AKUN ZERO SPREAD
4. GARANSI KEHILANGAN DANA DEPOSIT HINGGA 100%
5. DEPOSIT DAN PENARIKAN DANA MELALUI BANL LOKAL
Indonesia dan banyak lagi yang lainya
Buka akun anda di fbsasian.com
-----------------
Jika membutuhkan bantuan hubungi kami melalui :
Tlp : 085364558922
BBM : fbs2009

Unknown mengatakan...

untuk kalimat yang menyakatan kurva dan contohnya tolong diperjelas dan diperbaiki karena dalam kalimat beberapa dimisalkan dengan kurva hanya dengan menggunakan kata-kata (tidak dengan contoh kurva)

Posting Komentar

Translate